KISAH KU #2 Cerita Kecil dari Kelas Dua

 Kelas 2




Tahun ajaran baru pun dimulai tepatnya pada tahun 2010. Aku kini duduk di kelas dua SD Negeri inpres 014729 Lubuk Besar, dan rasanya seperti naik level di sebuah permainan. Seragamku masih sama, tapi langkahku terasa lebih ringan seolah aku sudah sedikit lebih tahu tentang dunia sekolah. Meski tetap suka tertawa dan penasaran tentang banyak hal, aku merasa sedikit lebih "besar" dari sebelumnya.

Di kelas dua ini, aku masih duduk di bangku paling belakang, hahaha. Aku duduk sebangku dengan Gian Arya Sena, anak tinggal kelas  yang dulu kutemui di kelas satu., dan dia kini menjadi teman sebangkuku di kelas dua. Meskipun awalnya aku agak bingung kenapa dia bisa tinggal kelas, ternyata kami jadi teman yang seru. Gian ternyata orangnya asyik dan selalu punya ide-ide lucu, jadi hari-hari kami selalu penuh tawa dan cerita.

Aku juga bertemu dengan teman-teman baru, yang ternyata adalah anak-anak yang tidak naik ke kelas tiga dan akhirnya sekelas denganku. Salah satunya adalah Nasrul, yang tinggal kelas selama dua tahun karena kesulitan membaca. Ada juga Aidil, yang juga tinggal kelas selama dua tahun karena ia adalah anak dengan kebutuhan khusus. Kami sering bermain kejar-kejaran bersama, dan karena rumah kami searah, kami pun kerap pulang bareng sambil bercanda di jalan.

Oh iya, saat itu kelas dua juga kedatangan murid baru bernama Mifta Huljanah. Aku agak lupa dia pindahan dari sekolah mana, tapi yang kuingat, rumah Mifta juga sejalan dengan kami. Jadi, hampir setiap hari, aku, Gian, Nasrul, Aidil, dan Mifta berjalan kaki pulang bersama.

Setiap hari di kelas dua terasa penuh kejutan. Pelajaran jadi sedikit lebih sulit. Saat itu kami mulai diminta menghafal perkalian, dan harus maju ke depan kelas satu per satu untuk menghapal nya. Hahaha, itu adalah hal yang cukup menakutkan bagiku! Karena takut tidak bisa, aku pun menghafal perkalian setiap malam. Sampai akhirnya tiba giliranku maju ke depan kelas dan untungnya, aku berhasil menghapalnya dengan lancar.

Di sebuah kesempatan di kelas dua, aku dan Mifta dipilih untuk mengikuti lomba membaca Surah Al-Fatihah di sekolah. Aku dipilih karena katanya aku pernah sekolah di TPA, jadi dianggap sudah lancar membaca surah-surah pendek. Padahal, waktu itu aku sedang malas-malasan untuk belajar ulang bacaan Al-Fatihah. Hahaha, rasanya seperti mengandalkan "ilmu lama", tanpa usaha tambahan, aku malah sibuk bermain dan merasa cukup percaya diri. Tapi ternyata, ketika hari lomba tiba, semuanya jadi berbeda. Saat aku maju ke depan dan mulai membaca, tiba-tiba aku merasa gugup dan lidahku seperti kelilit. Ada beberapa bagian yang terselip atau terbaca kurang jelas. Dan seperti yang bisa ditebak aku pun kalah dalam lomba itu. Dari situ aku belajar satu hal penting: punya pengalaman itu bagus, tapi belajar dan latihan tetap jauh lebih penting.

Singkat cerita, di suatu pagi di sekolah, aku membeli mainan shuriken seharga Rp. 2.000. Setelah membelinya, aku langsung tidak sabar dan mulai melemparkan shuriken itu sambil bermain di kelas. Hahaha, seru banget rasanya, walaupun aku tahu itu bisa bikin ribut.

Tiba-tiba, tanpa sengaja, shuriken yang aku lempar terkena teman sekelasku, Arif, tepat di tangannya., dan darah pun mulai mengalir dari lukanya. Kelas pun langsung ramai, dan suasana jadi kacau. Arif mulai marah, dan kami berdua jadi berantem di kelas! Bajuku pun dipenuhi darah karena sempat terkena darah Arif.

Karena suasana semakin ramai dan takut terjadi hal yang tidak diinginkan, aku akhirnya memutuskan untuk lari pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ibu pun bertanya dengan khawatir, "Kenapa kamu pulang lebih awal?" Aku langsung menjawab, "Habis berantem." Mendengar itu, ibu jadi panik, lalu dia cepat-cepat mengelap bekas darah di bajuku, sambil khawatir bertanya-tanya apakah aku terluka.

Aku baru ingat bahwa tas dan peralatan sekolahku masih tertinggal di kelas. Setelah ibu selesai membersihkan bajuku, aku pun bergegas kembali ke sekolah. Sesampainya di kelas, aku langsung disambut oleh wali kelas yang sudah menunggu. Aku dimarahi habis-habisan karena membuat keributan. Hahaha, walaupun aku merasa malu, aku juga nggak bisa menahan tawa karena situasinya begitu kocak.

Singkat cerita, tibalah saat ujian semester. Suasana kelas jadi lebih serius dari biasanya. Teman-teman mulai sibuk membuka buku catatan, bahkan ada yang tiba-tiba jadi rajin bertanya ke guru. Aku juga mulai merasa tegang. Materi pelajaran terasa lebih banyak dibandingkan waktu kelas satu dulu, dan aku sempat bingung harus mulai belajar dari mana.

Untungnya, ibuku punya ide. Setiap malam menjelang tidur, beliau membacakan materi pelajaran untukku, seperti mendongeng. Aku mendengarkan sambil berbaring di kasur, mata hampir terpejam. Suara lembut ibu membuat suasana belajar jadi terasa hangat, dan tanpa aku sadari, informasi pelajaran masuk pelan-pelan ke dalam pikiranku. Kadang aku tertidur di tengah-tengahnya, tapi anehnya, saat bangun keesokan harinya, aku bisa mengingat sebagian besar yang ibu bacakan.

Metode itu ternyata sangat manjur. Saat hari pengumuman tiba, aku merasa campur aduk deg-degan, penasaran, dan sedikit takut. Tapi ketika wali kelasku menyebut namaku sebagai peringkat 3 di kelas dua, aku langsung terdiam sejenak. Lalu, senyum lebar muncul di wajahku. Rasanya seperti menang lomba besar!. Aku pulang dengan hati senang dan langsung menunjukkan hasil nilai ke ibuku. Ibu tersenyum dan bangga padaku.

 Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Semua usaha, belajar, dan pengalaman yang aku jalani selama ini membawaku pada satu langkah baru—kenaikan kelas. Aku sangat menantikan hari di mana aku resmi duduk di bangku kelas 3. Semoga di kelas baru nanti, aku bisa semakin rajin belajar, bertambah dewasa, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih kepada semua yang telah mendukungku hingga saat ini. Kelas 3, aku datang dengan semangat baru!